dark
banner 1080x90

Harga Anjlok, Lada Batu Ampar Ditinggalkan Petani dan Digantikan Nanas sebagai Komoditas Utama

Harga Anjlok, Lada Batu Ampar Ditinggalkan Petani dan Digantikan Nanas sebagai Komoditas Utama
Harga Anjlok, Lada Batu Ampar Ditinggalkan Petani dan Digantikan Nanas sebagai Komoditas Utama
Harga Anjlok, Lada Batu Ampar Ditinggalkan Petani dan Digantikan Nanas sebagai Komoditas Utama
Harga Anjlok, Lada Batu Ampar Ditinggalkan Petani dan Digantikan Nanas sebagai Komoditas Utama

KILASBORNEO.COM – Komoditas lada yang pernah menjadi kebanggaan Kecamatan Batu Ampar kini memasuki fase mati suri. Setelah beberapa tahun menjadi sumber penghasilan utama petani, anjloknya harga jual di pasaran membuat sebagian besar kebun lada ditinggalkan. Para petani beralih ke komoditas yang dianggap lebih menjanjikan, seperti nanas, yang kini menjadi tumpuan ekonomi wilayah tersebut.

Camat Batu Ampar, Suriansyah, mengungkapkan bahwa pada masa kejayaannya, lada Batu Ampar pernah mencapai nilai jual fantastis. “Dulu ladanya luar biasa sangat booming pada saat lada itu harganya kan sampai lebih daripada Rp100.000 sekilo,” ujarnya mengenang.

Namun situasi berubah drastis dalam beberapa tahun terakhir. Harga lada jatuh hingga lebih dari 50 persen, berada pada kisaran Rp50.000–Rp60.000 per kilogram. Penurunan tajam ini membuat petani tidak lagi melihat lada sebagai komoditas yang menguntungkan. Suriansyah menegaskan bahwa jika harga masih bertahan di angka Rp70.000–Rp80.000, para petani kemungkinan masih mau merawat tanaman mereka.

“Sekarang lada itu kan murah. Rp50.000, Rp60.000 saja. Ya jaranglah yang mengurusi itu lagi,” tambahnya.

Kondisi tersebut mendorong pergeseran fokus pertanian di Batu Ampar. Nanas kini menjadi komoditas unggulan baru yang lebih diandalkan untuk menopang pendapatan warga. Selain faktor harga, wilayah Batu Ampar juga tidak memiliki potensi untuk menjadi sentra padi. Topografi wilayah yang didominasi dataran pegunungan membuat pembangunan sawah kurang memungkinkan.

“Batu Ampar ini kan umumnya berupa dataran pegunungan ya. Tidak ada sawah,” jelas Suriansyah.

Meskipun pernah ada identifikasi lahan potensial di Desa Telaga, pengembangan padi tetap tidak maksimal karena masyarakat sejak dulu bukan petani padi. Dengan kondisi tersebut, nanas menjadi harapan terbesar sektor pertanian Batu Ampar di tengah meredupnya kejayaan lada. (ADV/HR)

Loading

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post
Status Jalan Provinsi Hilang, Warga Mugi Rahayu Kian Terisolasi

Status Jalan Provinsi Hilang, Warga Mugi Rahayu Kian Terisolasi

Next Post
Desa Ambil Alih Pembiayaan Nakes, Suriansyah: Inisiatif Kades Selamatkan Layanan Pustu Batu Ampar

Desa Ambil Alih Pembiayaan Nakes, Suriansyah: Inisiatif Kades Selamatkan Layanan Pustu Batu Ampar

Related Posts