dark
banner 1080x90

“Pernikahan Lebih Penting Dari Nyawa?” Keluarga Alm. Bpk. Modestus Marah dan Sedih, Puskemas Bebar Kumur “Biarkan” Pasien Mati Karena Keterlambatan

"Pernikahan Lebih Penting Dari Nyawa?" Keluarga Alm. Bpk. Modestus Marah dan Sedih, Puskemas Bebar Kumur "Biarkan" Pasien Mati Karena Keterlambatan
“Pernikahan Lebih Penting Dari Nyawa?” Keluarga Alm. Bpk. Modestus Marah dan Sedih, Puskemas Bebar Kumur “Biarkan” Pasien Mati Karena Keterlambatan

KILASBORNEO.COM – Kesedihan yang menyayat hati bercampur kemarahan yang membara. Itulah yang dirasakan keluarga Alm. Bpk. Modestus Leinussa, yang kehilangan sang bapak pada hari Rabu (4/12) pagi. Menurut mereka, kematiannya adalah akibat dari pelayanan medis yang bodoh, cuek, dan memprioritaskan acara pernikahan daripada nyawa pasien di Puskemas Bebar Kumur. Sekarang, mereka menuntut kejelasan – bukan omongan kosong, tapi tindakan nyata.

Peristiwa mulai pada Senin (25/11) jam 11 malam: Bpk. Modestus mengalami kecelakaan, lengan kiri bagian siku terluka parah. Keluarga buru-buru mengantarkannya ke Puskemas Bebar Kumur, tiba jam 1 malam. Luka segera dijahit dokter – semuanya terasa lancar, seolah-olah segalanya akan baik-baik saja.

Keesokan harinya (26/11), keluarga minta izin pulang ke Desa Bebar Timur (tinggal di Dusun Bebar Barat) sesuai petunjuk. Pada Selasa (27/11), mereka kembali kontrol dan diberi obat – kemudian minta izin pulang lagi karena kekurangan telur dan susu untuk pasien. Permintaan disetujui.

Pecah! Dokter: “Semua petugas ke pernikahan, tidak ada yang tinggal” – padahal pasien KRITIS

Masalah muncul pada Senin (2/12) jam 8 pagi: darah membanjiri luka yang dijahit. Keluarga panik, hubungi dokter via WhatsApp. Jawabannya membuat terkejut sampai pusing:

“Saya dan semua petugas harus ke Desa Kuai untuk pernikahan perawat. Tidak ada yang bisa tinggal melayani.”

Keluarga menegaskan berkali-kali: “Pasien sudah kritis! Tolong tinggalkan satu orang saja!” Tapi jawabannya tetap “Tidak bisa!”. Keluarga terpaksa menunggu dalam ketakutan, melihat pasien semakin lemah sampai keesokan harinya (3/12).

Perjalanan kesusahan – pasien dikeluarkan paksa saat keluarga mencari lampu

Keluarga kemudian mengangkut pasien ke puskesmas dengan tempat tidur yang dibawa sendiri – tak ada ambulans, tak ada bantuan. Di sana, mereka bertemu perawat Guntur dan meminta tolong menempatkan pasien yang sudah lemah banget. Dokter datang, melayani sebentar – keluarga minta agar pasien tinggal di puskesmas sementara. Permintaan disetujui.

Tapi ada masalah lain yang mengejek: puskesmas tidak ada lampu penerangan. Tanpa ragu, keluarga berkata: “Kami akan bawa genset, tunggu saja!” Mereka pulang ke desa, tiba jam 11 siang. Tapi sebelum bisa kembali, telepon datang dengan suara tegas:

 

“Puskesmas tutup jam 13.00! Pasien harus keluar SEKARANG, tidak boleh menunda!”

 

Keluarga meminta menunggu sebentar, tapi petugas dikeluarkan paksa pasien. Ketika keluarga tiba kembali di rumah, mereka tanya: “Kenapa dokter dan perawat tidak ikut datang?” Jawabannya: “Perawat akan datang nanti.”

Menunggu 12 JAM tanpa petugas – pasien meninggal sebelum penanganan selesai

Keluarga menunggu dari jam 3 sore sampai jam 3 pagi tgl 4/12. Tidak satu pun petugas yang muncul. Darah terus keluar dari luka Bpk. Modestus – dia semakin lemah, sampai tidak bisa berbicara lagi.

Hanya pada jam 5 pagi, dokter baru memerintahkan perawat Guntur dan mantri ke rumah pasien dengan alat medis. Mereka tiba jam 8.30 pagi – tapi Bpk. Modestus sudah tidak sadar, napasnya lemah, kondisi sangat kritis. Saat mantri baru mulai menangani, sang bapak menghembuskan nafas terakhir pada jam 9 pagi di rumah Bpk. Surpin Latunussa, Dusun Bebar Barat.

“Nyawa orang bukan mainan! Puskemas ini bodoh, cuek!”

“Ini yang bikin kami kecewa parah, bahkan marah! Keterlambatan, cuek, sampai memprioritaskan pernikahan daripada pasien kritis – semuanya seharusnya tidak terjadi! Nyawa orang bukan mainan, apalagi ditolak karena acara pernikahan!” ungkap salah satu anggota keluarga dengan nada tegas dan menyedihkan, matanya berkaca-kaca air.

Keluarga tidak mau diam. Mereka menginginkan kejelasan penuh:

Mengapa pelayanan terlambat sampai ekstrem?

Apakah ada kesalahan yang jelas yang bawa bapak kami mati?

Apa tindakan yang akan diambil Puskemas dan Dinas Kesehatan agar kasus serupa tidak pernah terulang?

Tim Redaksi

Loading

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post
Kapolda Babel: Duka Sumbar adalah Duka Kita Bersama

Kapolda Babel: Duka Sumbar adalah Duka Kita Bersama

Next Post
"Pernikahan Lebih Penting Dari Nyawa?" Keluarga Alm. Bpk. Modestus Kecewa Parah, Keterlambatan Puskemas Bebar Kumur Diduga Bawa Mati

“Pernikahan Lebih Penting Dari Nyawa?” Keluarga Alm. Bpk. Modestus Kecewa Parah, Keterlambatan Puskemas Bebar Kumur Diduga Bawa Mati

Related Posts