KILASBORNEO.COM – Nestapa warga Mandailing Natal (Madina) seolah tak berujung. Setelah diterjang banjir dahsyat yang memaksa ratusan keluarga mengungsi, kini mereka kembali dihantam krisis baru: kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang melumpuhkan aktivitas sehari-hari. Antrean panjang kendaraan memadati SPBU di Panyabungan dan sekitarnya sejak pagi hingga malam, namun pasokan BBM tak kunjung tiba, menambah kepanikan dan amarah warga.
Kelangkaan BBM ini disebabkan oleh terputusnya akses distribusi akibat banjir dan longsor yang menutup sejumlah titik jalan utama, seperti jalur Panyabungan—Kotanopan. Truk pengangkut BBM terpaksa berhenti berjam-jam karena terjebak material longsor dan genangan air yang tinggi, menyebabkan terhambatnya pasokan ke SPBU dan menipisnya stok.
Kondisi ini diperparah dengan melonjaknya harga BBM eceran di pasaran. Harga bensin botolan meroket hampir dua kali lipat dalam sehari terakhir, memaksa pengguna kendaraan roda dua dan roda empat berebut mendapatkan bahan bakar demi memenuhi kebutuhan transportasi, logistik makanan, dan pengiriman bantuan bagi korban banjir.
“Banjir belum selesai, kini BBM langka. Kami semakin sulit bergerak mengantar bantuan dan bekerja,” keluh seorang warga yang telah mengantre berjam-jam tanpa kepastian.
Situasi ini memicu kecaman terhadap lambatnya respons pemerintah dalam memastikan ketersediaan pasokan energi vital saat bencana melanda. Kebijakan penanganan bencana dinilai tidak terintegrasi dengan sistem distribusi logistik penting seperti BBM, sehingga masyarakat menjadi korban kedua akibat kelalaian koordinasi.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada kepastian kapan distribusi BBM akan kembali normal. Warga berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret dan cepat agar penderitaan mereka tidak terus berlarut-larut di tengah bencana.
#BanjirMadina #BBMLangka #MandailingNatal #BencanaAlam #ResponsLambat #KrisisEnergi #PenderitaanRakyat
Magrifatulloh
![]()
